Selasa, 10 Juli 2012

Asuhan Keperawatan Tuberkolosis (TBC)


A.    Tinjauan Teoritis Tuberculosis Paru

     1.      Pengertian
Alsagaff (1995 : 73) Tuberculosis Paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis Paru merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah.

Smeltzer (2000 : 436) menyatakan, Tuberculosis Paru ialah penyakit infeksi terutama menyerang parenkim paru. Juga dapat pula menyerang bagian dari tubuh seperti selaput otak, ginjal, tulang dan kelenjar limfe. Agen infeksi utama ialah mycobacterium tuberculosis yang merupakan basil tahan asam, yang berkembang secara perlahan dan sensitive terhadap panas dan ultraviolet.
Lewis (2000 : 623) menyebutkan, tuberculosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis yang biasanya menyerang paru, tetapi dapat pula menyerang ginjal, tulang, kelenjar adrenal, kelenjar limfe dan selapu otak dan dapat pula menyebar pada seluruh tubuh.
Kumar (1997 : 161) Tuberculosis Paru merupakan penyakit menular granulomatosa kronik yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis. Pada umumnya menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai semua organ atau jaringan dalam tubuh secara khas, pusat dari granuloma mengalami nekrosis kaseosa yang menimbulkan “tuberkel lunak”
Dengan demikian tuberculosis dalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dan yang paling sering menyerang saluran pernafasan bagian bawah khususnya parenkim paru, tetapi mungkin juga menyebar keorgan lain seperti selaput otak, ginjal, tulang, dan kelenjar limfe.
Pada tahun 1974 American Thoracic Society Bahar (1999 : 717) memberikan klasifikasi baru tuberculosis yang diambil dari kliasifikasi kesehatan masyarakat :
a.       Kategori O   :        tidak pernah terpapar dan tidak pernah terinfeksi Riwayat
                           kontak negatif, tes tuberculin negatif.
b.      Kategori 1 :  terpapar tuberculosis tapi tidak terbukti ada infeksi 
                           Riwayat kontak positif, tes tuberculin negatif.
c.       Kategori 2 :  terinfeksi tuberculosis tapi tidak sakit, tes tuberculin
                           positif, radiology dan sputum negatif.
d.      Kategori 3 :  teinfeksi tubekulosis dan sakit.
2.      Etiologi
Menurut Lewis (2000 : 623) tuberculosis meupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis, bersifat garm positif, berbentuk basil tahan asam.
Menurut Sjamsuhidajat dan jong (1997 :20) ada 2 macam type mycobacterium yang menyebabkan penyakit tuberculosis yaitu :
a.       Basil type bovin berada dalam susu sapi yang menderita mastitis tuberculosis, dan bila diminum dapat menyebabkan tuberculosis usus.
b.      Basil type human bisa berada dalam droplet (percikan ludah) yang menyebar melalui udara, yang berasal dari penderita tuberculosis terbuka.
3.      Tanda dan Gejala
Menurut Bahar (1999 : 718) keluhan yang dirasakan penderita tuberculosis paru dapat bermacam-macam atau tanpa keluhan sama sekali, keluhan terbanyak adalah :
a.       Demam.
Kadang-kadang panas badan mencapai 40 –41°C.  Serangan demam bersifat hilang timbul.
b.      Batuk.
Terjadi karena iritasi bronkus, sifat batuk dimulai dengan batuk kering kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum).  Keadaan yang lanjut adalah batuk darah (Hemaptoe) karena terdapat pembuluh darah yang pecah.
c.       Sesak Nafas.
Akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru-paru.
d.      Nyeri Dada.
Timbul bila infeksi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis
e.       Malaise
Gejala malaise sering ditemukan berupa :anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat pada malam hari.
Menurut Alsagaff (1995 : 85) gejala klinis tuberculosis tidak ada yang khas, gejala klinik sangat bervariasai dari satu penyakit yang tidak menunjukkan gejala dengan suatu bentuk penyakit dengan gejala yang sangat mencolok.  Gejala-gejala klinis dari tuberculosis adalah :
a.       Batuk
Gejala batuk adalh timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan.
b.      Dahak
Aklibat adanya peradangan bronkus sehingga menghasilkan sekret .  sekret biasanya awalnya bersifat mukoid dan keluar berwarna
mukopurulen / kuning atau kuning hijau.
c.       Batuk Darah.
Batuk darah merupakan tanda telah terjadinya pemecahan pembuluh darah pada dinding kavitas.
d.      Nyeri Dada.
Nyeri Dada timbul bila infeksi radang sudah sampai ke rongga pleura sehingga menimbulkan pleuritis
e.       Dispneu
Proses lanjut dari tuberculosis paru akibat adanya obstruksi saluran pernafasan.
Disamping gejala-gejala kinis alsagaff (1955 :87) menyebutkan ada gejala-gejala umum yang ditimbulkan oleh tuberculosis paru yaitu :
a.       Panas Badan Meningkat (demam).
Merupakan gejala paling sering dijimpai dan paling penting, karena mengidentifiokasi adanya infeksi.
b.      Menggigil.
Dapat terjadi panas badan naik dengan cepat, tetapi tidak diikuti pengeluaran panas dengan kecepatan yang sama.
c.       Keringat Malam.
Umumnya baru timbul bila proses lebih lanjut.
d.      Gangguan proses menstruasi pada wanita.
Ini juga umumnya terjadi pada proses tuberculosis paru yang sudah lanjut.
e.       Anoreksia.
Anoreksia dan penurunan berat badan merupakan manifestasi
yang timbul belakangan dan lebih sering dikeluhkan bila proses progresif.
f.       Lemah Badan.
Gejala ini dapat disebabkan oleh kerja berlebihan, kurang tidur, dan keadaan sehari-hari yang kurang menyenangkan.
4.      Pemeriksaan Penunjang.
Menurut Doengoes (1999 : 242), meliputi :
a.       kultur sputum : positif untuk mycobacterium tuberculosis pada tahap akhir penyakit.
b.      Tes kulit (PPD, Mantoux test) :reaksi positif (area induksi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48 – 72 jam setelah infeksi intradermal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibody tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif.
c.       Fotothoraks : dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada areea paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer, atau effusi cairan perubahan menunjukkan lebih luas tuberculosis dapat termasuk rongga, area fibrosa dan bercak-bercak kavitas dan tuberkel.
d.      Elektrolit :dapat tidak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi; contoh hiponatremia, disebabkan oleh tidak normalnya retensi air dapat ditemukan pada tuberculosis paru kronis luas.
e.       AGD (Analisa Gas Darah) pada arteri untuk mengetahui apakah ada kerusakan  / ketidakseimbangan proses perfusi dan difusi gas-gas yang ada di paru dan organ-organ yang lainnya.
5.      Penatalaksanaan medis.
Menurut Alsagaff (1955 : 98) untuk penatalaksanaan tuberculosis paru perlu diketahui beberapa hal sebagai berikut :
Mekanisme kerja obat anti-tuberculosis (OAT)
a.       Aktivetas Bakterial
1)      Ekstraseluler
Jenis obat yang bekerja ekstraseluler ialah Ripamfisin (RMP) dan Streptomisin (SM)
2)      Intraseluler
Jenis obat yang bekerja intraseluler ialah Ripamfisin (RMP) dan Isoniazid (INH)
b.      Aktivitas sterilisasi
Terhadap the persisters (basil semi dormant) membunuh kuman yang metabolisme pertumbuhannya lambat (kurang aktif / kuman yang tertidur)
1)      Ekstraseluler.
Jenis obat yang dipergunakan ialah Rifampiusin (RMP) san Isoniacid
2)      Intraseluler.
Untuk slowly growing bacill dipergunakan Rifampicin dan Isoniacid
Untuk very growing bacill dipergunakan Pirazinamid (PRZ)
c.       Aktivitas bakteriostatis
Obat-obatan yang mempunyai aktivitas bakteriostatis terhadap basil tahan asam, untuk :
1)      Ekstraseluler
Ialah Etambutol (EMB), Paraaminosalisiklik acid (PAS) san Sikloserin atau Tiasetazon.
2)      Intraseluler.
Kemungkinan masih dapat dimusnahkan oleh INH dalam keadaan telah terjadi resistensi sekunder.

B.     Tinjauan Teoritis Keperawatan Tuberculosis Paru

  1. Pengkajian
Menurut Doengoes (2000 : 240), meliputi :
a.       Aktivitas dan Istirahat
Gejala        : kelelahan umum dan kelemahan, nafas pendek karena kerja, kesulitan tidur pada malam hari
Tanda        ; takikardi, takipneu pada kerja, kelelahan otot
b.      Integritas Ego
Gejala        : adanya factor stress yang lama, masalh keuangan, rumah, perasaan tidak berdaya / tidak ada harapan populasi budaya atau etnik
c.       Makanan / nutrisi
Gejala        :  kehilangan nafsu makan, tidak dapat mencerna, penurunan berat badan.
Tanda        : berat badan dibawah jumlah berat badan ideal, kurus, pucat, anemia.
d.      Cairan
Gejala        :  apatis, kelemahan, lemas, selalu merasa haus, shok.
Tanda        :  turgor kulit jelek, takikardi, membran mukosa kering kelopak mata cekung
e.       Nyeri / rasa ketidaknyaman
Gejala        :  nyeri dada meningkat karena batuk berulang,pleuritis.
Tanda        :  prilaku distraksi, gelisah, takikardi, meringis, berhati-hati pada area sakit.
f.       Pernafasan
Gejala        :  batuk produktif atau tidak produktif, nafas pendek, riwayat tuberculosis pada individu yang terinfeksi, sesak nafas, nyeri pada saat bernafas.
Tanda        :  peningkatan frekuensi pernafasan, pengembangan pernafasan tidak simetris, perkusi pokok dan penurunan fremitus, bunyi nafas menurun / tidak ada secara bilateral dan unilateral, bunyi nafas tubulen atau bisikan pectoral di atas lesi luas, krekelstercatat diatas apeks paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek, karakteristik sputum hijau / purulen, mukoid kuning, atau ada bercak darah
g.      Keamanan
Gejala        :  adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS
Tanda        :  demam rendah atau sakit panas akut
h.      Interaksi Sosial
Gejala        :  perasaan isolasi / penolakan karena penyakit menular
Tanda        :  denial
i.        Penyuluhan dan Pembelajaran
Gejala        : riwayat keluarga TB, ketidakmampuan umum / status kesehatan buruk, gagal untuk membaik / kambuh TB, tidak berpartisipasi dalam terapi.
Pertimbangan rencana pemulangan : memerlukan bantuan dengan / gangguan dalam terapi obat dan bantuan diri dan pemeliharaan / perawatan rumah.
  1. Diagnosa Keperawatan
Menurut Doengoes (2000 : 242) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien tuberculosis paru adalah sebagai berikut :
a.       Infeksi, resiko tinggi, (penyebaran / aktivitas ulang) berhubungan dengan pertahanan primer tak adekuat, penurunan kerja silia / stasis sekret, kerusakan jaringan / tambahan infeksi, penurunan pertahanan / penekanan proses inflamasi, malnutrisi, terpajan lingkungan, kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen.
b.      Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah, kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakea / faringeal.
c.       Pertukaran gas, kerusakan, resiko tinggi, terhadap berhubungan dengan penurunan permukaan efektif baru, atelektasis, kerusakan membran alveoli-kapiler, sekret kental, edema bronchial.
d.      Nutrisi, perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan, sering batuk / protulasi sputum, dispneu, anoreksia, ketidakcukupan sumber keuangan
e.       Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi,aturan tindakan, dan pencegahanberhubungan dengan kurang terpajan pada / salah interpretasi informasi, keterbatasan kognitif, tak akurat, tak lengkap informasi yang ada.
  1. Perencanaan
Menurut Doengoes (2000 : 243) tindakan keperawatan pada pasien tuberculosis paru meliputi :
a.       Daignosa keperawatan I
Mandiri
1)      Kaji patologi penyakit (aktif / fase tak aktif, desiminasi infeksi melalui bronkus untuk membatasi jaringan atau melalui aliran darah / system lymfatuk) dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet udara selama batuk, bersin, meludah, tertawa, menyanyi
2)      Identifikasi orang lain yang beresiko, contoh anggota rumah, sahabat karib atau teman.
3)      Anjurkan pasien untuk batuk / bersin dan mengeluarkan pada tisu dan menghindari meludah.  Kaji pembuangan tisu sekali pakai dan teknik mencuci tangan yang tepat.
4)      Awasi suhu sesuai indikasi.
5)      Tekankan tentang pentingnya tidak menghentikan terapi obat.
6)      Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara periodic terhadap sputum untuk lamanya terapi.
7)      Dorong memilih / mencerna makanan seimbang. Berikan makanan sering-sering kecil makanan kecil pada jumlah makanan besar yang tepat.
Kolaborasi :
1)      Berikan agen anti infeksi sesuai indikasi, contoh : obat utama : Isoniazid, etambutol, Rifampisin.
2)      Awasi pemeriksaan laboratorium
b.      Diagnosa Keperawatan II
Mandiri :
1)      Kaji fungsi pernafasan, contoh : bunyi nafas, kecepatan, irama, dan kedalaman serta penggunaan otot aksesori.
2)      Catat untuk mengeluarkan mukosa / batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
3)      Berikan pasien posisi semi fowler atau fowler tinggi, Bantu pasien tntuk batuk dan latihan nafas dalam.
4)      Bersihkan sekret dari mulut dan trakea : penghisapan sesuai keperluan.
5)      Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontra indikasi.
Kolaborasi :
1)      Berikan obat obatan sesuai indikasi : agen mukolitik dan bronkodilator dan kortikosteroid.
c.       Diagnosa Keperawatan III
Mandiri :
1)      Kaji dispneu, takipneu, tidak normal / menurunnya bunyi nafas, peningkatan upaya pernafasan, terbatasnya ekspansi dinding dada dan kelemahan.
2)      Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran, catat sianosis, atau perubahan pada warna kulit, termasuk membran mukosa dan kuku.
3)      Tingkatkan tirah baring / batasi aktivitas dan Bantu aktivitas perawatan diri sesuai keperluan.
Kolaborasi :
1)      Awasi gas darah arteri.
2)      Berikan oksigen tambahan yang sesuai.
d.      Diaognosa Keperawatan IV
Mandiri :
1)      Catat status nutrisi pada penerimaan, catat turgor kulit, berat badan dan derajat kekurangan berat badan, integritas mukosa oral, kemampuan dan ketidakmampuan menelan, adanya mukosa tonus otot, riwayat mual / muntah atau diare.
2)      Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai / tidak disukai.
3)      Awasi masukan / keluaran dan berat badan secara periodic.
4)      Selidiki anoreksia, mual dan muntah, dan catat kemungkinan hubungan dengan obat.  Awasi frekuensi, volume konsistensi feses.
5)      Dorong dan berikan periode istirahat sering.
6)      Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan.
7)      Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.
8)      Dorong orang terdekat untuk membawa makanan untuk pasien kecuali kontra indikasi.
Kolaborasi :
1)      Rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
2)      Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh : BUN (Blood Urea Nitrogen) protein serum dan albumin.

e.       Diagnosa Keperawatan V
Mandiri :
1)      Kaji kemampuan pasien untuk belajar, contoh : tingkat takut, masalah kelemahan, tingkat partisipasi, lingkungan terbaik dimana pasien dapat belajar, seberapa banyak isi, media terbalik, siapa yang terlibat.
2)      Identifikasi gejala yang harus dilaporkan keperawat, contoh : hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas, kehilangan pendengaran, vertigo.
3)      Berikan instruksi dan informasi tertulis khusus pada pasien untuk rujuk, contoh : jadwal obat.
4)      Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan, dan alas an pengobatan lama.  Kaji potensial interaksi dengan obat / substansi lain.
5)      Kaji potensial efek samping pengobatan (contoh : mulut kerung, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, hipertensi ortestatik) dan pemecahan masalah.
6)      Dorong pasien / orang terdekat untuk menyatakan takut / masalah.  Jawab pertanyaan secara nyata.  Catat lamanya penggunaan penyangkalan.
7)      Dorong untuk tidak merokok.
8)      Kaji bagaimana TB ditularkan (misalnya : khususnya dengan inhalasi organisme udara tetapi dapat pula menyebar melalui feses atau urine bila terinfeksi ada pada system ini) dan bahaya reaktivasi.
  1. Evaluasi
Menurut doengoes (2000 : 242) evaluasi dari tindakan keperawatan pada pasien tuberculosis paru yaitu :
a.       Diagnosa Keperawatan I
1)      Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko
 penyebaran infeksi.
2)      Menunjukkan teknik / melakukan perubahan pola hidup meningkatkan lingkungan yang aman.
b.      Diagnosa Keperawatan II
1)      Mempertahankan jalan nafas pasien.
2)      Mengeluarkan sekret tanpa bantuan.
3)      Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki / mempertahankan bersihan jalan nafas.
c.       Diagnosa Keperawatan III
1)      Melaporkan tidak adanya / penurunan dispneu.
2)      Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat dengan GDA (Gas Darah Arteri) dalam rentang mormal.
3)      Bebas dari gejala distress pernafasan.
d.      Diagnosa Keperawatan IV
1)      Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda malnutrisi.
2)      Melakukan prilaku / perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat yang tetap.
e.       Diagnosa Keperawatan V
1)      Menyatakan pemahaman proses penyakit / prognosis dan kebutuhan pengobatan.
2)      Melakukan prilaku / perubahan pola hidup untuk memperbaiki kesehatan umum dam menurunkan resiko pengaktifan ulang TB.
                 Menggambarkan rencana untuk menerima perawatan kesehatan yang adekuat.

Daftar Pustaka.


Carpenito, Lynda Juall. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Edisi 2. Jakarta: FKUI 1999.

Ovedaff, D. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi Ke-3. Jakarta: Media Aesculapius 1999.
Pusat Studi Tuberkullosis. Tuberkullosis Tinjauan Multi Disiplin. Banjarmasin: Pusat Studi Tuberkullosis  Fakultas  Kedokteran  Universitas  Lambung  Mangkurat / RSUD Ulin Banjarmasin.
Persatuan  Ahli  Penyakit  Dalam  Indonesia.  Ilmu  Penyakit  Dalam  Jilid  I  Edisi K e- 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI 1996.
Syaifuddin. B. Ac. Anatomi Fisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC 1994.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar